Informasi terbaru terlengkap terbaik

YOUTH AND LIFESTYLE

Random Post
Dangdut terbaru 2013 Bukak Sitik Joss Eny Sagita

Dangdut terbaru 2013 Bukak Sitik Joss Eny Sagita

Dangdut terbaru 2013 Bukak Sitik Joss Eny Sagita – Lagi lagi Eny Sagita menggoyang pecinta musik dangdut seluruh indonesia dengan lagu lagu dangdut yang liriknya […]

Selengkapnya »

Contoh Teori Fasilitas Belajar Untuk Skripsi Pendidikan

Contoh Teori Fasilitas Belajar Untuk Skripsi Pendidikan – berikut adalah contoh teori fasilitas belajar untuk skripsi pendidikan, silahkan dipelajari bagi yang membutuhkan , lengkap dengan kutipan kutipan dari beberapa ahli.

Contoh Teori Fasilitas Belajar Untuk Skripsi Pendidikan

2.1.1   Tinjauan Tentang Fasilitas Belajar

2.1.3.1 Pengertian Fasilitas Belajar

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, fasilitas adalah segala hal yang dapat memudahkan perkara (kelancaran tugas dan sebagainya) atau kemudahan. (Kamus Besar Indonesia, 2001: 314).

Sedangkan menurut Suryo Subroto di dalam Arianto Sam (2012) “fasilitas adalah segala sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan suatu usaha, dapat berupa benda-benda maupun uang”

Menurut Muhroji dkk (2004:49) “Fasilitas belajar adalah semua yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik bergerak maupun tidak bergerak agar tercapai tujuan pendidikan dapat berjalan lancar, teratur, effektif, dan efisien”

Dari pendapat-pendapat diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa fasilits belajar adalah segala sesuatu baik berupa benda bergerak atau tidak bergerak serta uang (pembiayaan) yang dapat mempermudah, memperlancar, mengeffektifkan serta mengefisienkan penyelenggaraan kegiatan belajar guna mencapai tujuan belajar.

2.1.3.2 Peranan Fasilitas Belajar Dalam Proses Pembelajaran

Keberadaan akan fasilitas belajar sebagai penunjang kegiatan belajar tentulah sangat berpengaruh terhadap hasil belajar dan prestasi siswa, dikarenakan keberadaan serta kondisi dari fasilitas belajar dapat mempengaruhi kelancaran serta keberlangsungan proses belajar anak, hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Dalyono (2001:241) yang menyatakan bahwa, “kelengkapan fasilitas belajar akan membantu siswa dalam belajar, dan kurangnya alat-alat atau fasilitas belajar akan menghambat kemajuan belajarnya.”

Lebih lanjut Moh. Surya (2004: 80) memaparkan betapa pentingnya kondisi fisik fasilitas belajar terhadap proses belajar yang menyatakan bahwa, “Keadaan fasilitas fisik tempat belajar berlangsung di kampus/sekolah ataupun di rumah sangat mempengaruhi efisiensi hasil belajar. Keadaan fisik yang lebih baik lebih menguntungkan mahasiswa belajar dengan tenang dan teratur. Sebaliknya lingkungan fisik yang kurang memadai akan mengurangi efisiensi hasil belajar”

Jadi kelancaran dan keterlaksanaan sebuah proses pembelajaran akan lancar dan baik jika didukung sarana atau fasilitas pembelajaran yang lengkap serta dengan kondisi yang baik sehingga tujuan dari pembelajaran akan tercapai dengan baik.

2.1.3.3 Jenis-jenis Fasilitas Belajar

Menurut The Liang Gie (2002) fasilitas belajar dapat dilihat dari tempat dimana aktivitas belajar itu dilakukan. Berdasarkan tempat aktivitas belajar dilaksanakan, maka fasilitas belajar dapat dikelompokan menjadi dua yaitu: (1) Fasilitas belajar di sekolah dan (2) Fasilitas belajar di rumah.

Menurut Oemar Hamalik (2003) terkait fasilitas belajar sebagai unsur penunjang belajar, bahwa: “Ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian kita, yakni media atau alat bantu belajar, peralatan-perlengkapan belajar, dan ruangan belajar. Ketiga komponen ini saling mengait dan mempengaruhi. Secara keseluruhan, ketiga komponen ini memberikan kontribusinya, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar….”.

Menurut Mulyani (dalam Suharsismi dan Lia, 2008), “Perpustakaan sekolah merupakan suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari lembaga pendidikan sekolah yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistemik dengan cara tertentu untuk digunakan siswa dan guru sebagai suatu sumber informasi dalam rangka menunjang program belajar dan mengajar.

Dari paparan serta pendapat yang dikemukakan para ahli dapat di tarik sebuah kesimpulan mengenai jenis-jenis fasilitas yang secara umum dapat mempengaruhi sebuah kegiatan belajar serta dapat membantu proses kelancaran belajar diantaranya adalah:

  1. 1.      Fasilitas belajar di sekolah
    1. a.      Gedung sekolah

Gedung sekolah menjadi central perhatian dan pertimbangan bagi setiap pelajar yang ingin memasuki suatu lembaga sekolah tertentu. Karena mereka beranggapan kalau suatu sekolah mempunyai bangunan fisik yang memadai tentunya para siswa dapat belajar dengan nyaman dan menganggap sekolah tersebut sebagai sekolah yang ideal.

  1. b.      Ruang Belajar

Ruang belajar di sekolah (Ruang kelas, Laboratorium dan Bengkel) adalah suatu ruangan sebagai tempat terjadinya proses interaksi belajar mengajar. Ruang belajar yang baik dan serasi adalah ruang belajar yang dapat menciptakan kondisi yang kondusif, karena ruangan belajar merupakan salah satu unsur penunjang belajar yang effektif dan menjadi linggungan belajar yang nantinya berpengaruh terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar. Dengan demikian letak kelas sudah di perhatikan dan diperhitungkan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat menghambat proses belajar mengajar jika lingkungan belajar yang disediakan dalam ruangan cukup menyenangkan, maka akan mendorong peserta didik untuk belajar lebih giat. Sebaliknya jika ruang belajar menyediakan lingkungan yang kurang atau tidak menyenangkan, maka kegiatan belajar yang kurang terangsang dan hasilnya kurang memuaskan.

Secara ideal menurut Oemar Hamalik (2003) Ruang belajar harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1)      Pencahayaan serta ventilasi yang baik, karena ruang demikian akan terasa besar bantuannya dalam kebiatan belajar. Sebaliknya ruang yang gelap atau memerlukan penerangan pada siang hari  dan pengap tentunya kurang baik bagi kesehatan dan sedikit-banyak kurang menunjang kepentingan belajar

2)      Jauh dari hiruk-pikuk jalan raya atau keramaian kota, karena hal itu akan mengganggu konsentrasi anak dalam belajar. Menempati ruang yang tenang dan jauh dari kegaduhan lebih mendukung anak dalam belajar.

3)      Menjaga kebersihan, kerapihan dan keindahan ruangan agar ruangan sedap dipandang mata.

4)      Lingkungan tertib dan aman, karena lingkungan yang kurang aman akan turut mengganggu konsentrasi belajar, bahkan secara fisik mungkin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

5)      Menciptakan situasi ruang belajar yang nyaman, hal terebut dirasa penting guna membantu ketenangan dan kesenangan belajar serta kenyamanan akan membawa kejernihan suasana dan mempengaruhi pula prilaku dan sikap.

6)      Ukuran ruang cukup memadai untuk kegiatan belajar, ukuran ruang kelas hendaknya disesuaikan dengan rancangan pengembangan instruksional yang sangat effektif untuk belajar mengajar sehingga daya serap anak didik terhadap suara guru dapat mendengar dengan baik.

7)      Cat tembok, meski tergolong sesuatu yang bersifat subjektif namun hendaknya pemilihan warna jangan yang bersifat mencolok.

8)      Atur ruangan agar serasi terhadap penempatan meja dan kursi serta peralatan-peralatan lain, dan jangan biarkan terkesan semrawut dan berantakan karena akan mempengaruhi motif belajar.

  1. c.       Alat Bantu Belajar dan Media Pengajaran

Alat bantu belajar berfungsi untuk membantu siswa belajar guna meningkatkan efisiensi dalam belajar, sedangkan media pengajaran dapat diartikan “sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong  proses belajar”. Bentuk-bentuk media yang digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar agar menjadi kongkrit. Penggunaan media tidak lain adalah untuk mengurangi verbalisme agar anak mudah mengerti bahan pelajaran yang disajikan.

Penggunaan media harus disesuaikan dengan pencapaian tujuan. Bila penggunaan media tidak tepat membawa akibat pada pencapaian tujuan pengajaran kurang efektif. Untuk itu guru harus terampil memilih media pengajaran agar tidak mengalami kesukaran dalam menunaikan tugasnya.

Beberapa jenis media yang dapat digunakan dalam proses belajar antara lain:

1)      Media grafis atau media visual. Dalam media ini pesan-pesan dapat di sampaikan atau dituangkan dalam bentuk Simbol-simbol komunikasi. Contohnya : Wallchart, Gambar, Slide

2)      Media audio dan audio-visual. Media audio adalah media yang berhubungan dengan pendengaran, sedangkan media audio-visual adalah media yang menggabungkan unsur yang bersifat pendengaran (bunyi) dan penglihatan (grafis) secara bersamaan. berfungsi menyampaikan pesan pembelajaran yang akan disampaikan, dituangkan kedalam lambang-lambang audio baik bersifat verbalis. Contohnya: Radio, rekaman, film, video, program televisi

3)      Media proyeksi. Media proyeksi adalah media baik bersifat visual ataupun audio visual. Media ini interaksinya harus di proyeksikan dengan proyektor terlebih dahulu agar pesan dapat dilihat oleh siswa. Yang termasuk dalam media ini adalah, film bingkai, Overhead projector (OHP) dan transparansi, serta proyektor digital.

4)      Objek (benda sebenarnya) dan Model serta media-media lain

  1. d.      Perpustakaan sekolah

Menurut The Liang Gie (2004)  “perpustakaan adalah sebuah bangunan gedung yang isinya berupa buku-buku dan bahan bacaan lainnya serta berbagai sumber pengetahuan seperti film, chalet yang disediakan untuk dimanfaatkan oleh para pengguna. Dengan demikian perpustakaan berfungsi sebagai sumber informsi, sebagai sumber referensi guna mempermudah siswa dalam mengakses sumber belajar”.

  1. e.       Alat-alat tulis

Proses belajar tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa alat tulis yang dibutuhkan. Semakin lengkap alat tulis yang dimiliki semakin kecil kemungkinan belajarnya akan terlambat. Alat-alat tulis tersebut adalah berupa: buku tulis, pensil, ballpoint, penggaris, penghapus, dan alat-alat lain yang berhubungan secara langsung dengan proses belajar siswa yang perlu di miliki.

  1. f.       Buku Pelajaran

Selain alat tulis, dalam kegiatan belajar seseorang perlu memiliki buku yang dapat menunjang dalam proses belajar. Buku-buku yang dimiliki siswa antara lain:

1)      Buku Pelajaran Wajib. Yaitu buku pelajaran yang sesuai dengan bidang studi yang sedang dipelajari oleh peserta didik.

2)      Buku Kamus, meliputi kamus bahasa Indonesia, kamus Inggris-Indonesia dan kamus-kamus lain yang berhubungan dengan meteri pelajaran yang dipelajari.

3)      Buku Tambahan seperti majalah tentang pendidikan, ilmu pengetahuan dan lain-lain.

  1. g.      Fasilitas-fasilitas lain

Disamping macam-macam fasilitas belajar yang sudah disebutkan diatas, adapula hal-hal lain yang menunjang belajar siswa antara lain yaitu soal uang, pembiayaan atau kesanggupan pembiayaan guna pembayaran kebutuhan belajar seperti pembayaran SPP dan lain-lain, juga beberapa fasilitas lain seperti: rak buku, tas sekolah, transportasi, dan lain-lain.

  1. 2.      Fasilitas belajar di rumah

Kelengkapan fasilitas belajar di rumah sangat diperlukan oleh siswa untuk belajar, misalnya: sarana belajar yang meliputi meja, kursi, lemari/rak buku, ruangan, alat-alat tulis dan gambar serta penerangan. Mengenai prasayarat yang harus di penuhi terkait fasilitas belajar dirumah agar dikatakan baik bisa juga mengacu pada prasyarat mengenai fasilitas belajar di sekolah seperti halnya mengenai ruangan.

Dari pendapat ahli, maka fasilitas dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang memudahkan dan melancarkan proses belajar mengajar yang unsur-unsurnya meliputi: (1) Keadaan dan ketersediaan tempat belajar, (2) kelengkapan, (3) alat bantu belajar , (4) peralatan-perlengkapan belajar,  (5) perpustakaan, serta (6) kelengkapan-kelengkapan lain penunjang kelancaran proses belajar siswa seperti ketersediaan uang/pembiayaan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu.(2007). Sosiologi pendidikan. Jakarta : PT Rineka Cipta

Arikunto, S (2002). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Rrevisi). Jakarta:

Bumi Aksara.

 

Arikunto,S.(2006).ProsedurPenelitianSuatuPendekatanPraktik.Jakarta: RinekaCipta.

BPS. 2000.statistik Industri Sedang dan Besar , Jakarta : BPS

BPS, 2002. Jawa tengah Dalam Angka Semarang : BPS

Buchori. (1991). Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT. Aksara Baru.

Chaplin, James P. (2002 ).Kamus Psikologi. Jakarta : Rajawali

Christpher Pass dan Bryan Lowes. 1994. Kamus Lengkap Ekonomi,. Jakarta: Erlangga,

 

Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Kamus besar bahasa indonesia. Jakarta. Balai Pustaka.

Djaali. (2007).Psikologi Pendidikan. Jakarta:Bumi Aksara.

Djaali. (2011). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Djamarah, Syaiful Bahri. ( 2008 ). Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Gie, The Liang ( 1995 ). Cara belajar Yang Efisien. Yogyakarta : Liberty

Kadariyah, Analisa Pendapatan Nasional, (Jakarta: Bina Aksara, 1981)

Kurjono. (2010). Proses belajar Mengajar dengan Aspek-aspeknyna Panduan bagi Para Pendidik, Mahasiswa dan Para Praktisi Pendidikan. Bandung: ProgramStudi Pendidikan Akuntansi: Tidak diterbitkan.

Notodiharjo, Hardjono, (1990). Pendidikan tinggi dan tenaga kerja tingkat tinggi di Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia

 

Sujanto, Agus. (2004). Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Suprapto, Amin, ( 2007 ). “Minat masuk perguruan tinggi siswa kelas III program keahlian teknik instalasi listrik  pada SMK di Purworejo”, Skripsi , FT UNS

Surya, Mohamad. (1999). Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

 

Todaro, Michael P, Pembangunan Ekonomi di Dunia ke-3, terj. Haris Munandar,

(Jakarta: erlangga, 1999)

 

Mu’tadin, Z. (2002). Kemandirian sebagai kebutuhan psikologis pada remaja.http://www.e-psikologi.com/remaja.050602.htm

 

Syah, Muhibbin. (2009). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Mulyanto Sumardi dan Hans Dieter-Evers, Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok,

(Jakarta: Rajawali, 1982)

 

Hamalik, Oemar,(2003). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara

Sardiman, A.M (2009). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

 

Slameto (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:

Rajagrafindo Persada.

 

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono. (2003). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi dan Lia. (2008). Manajement Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media

Sukardi  ( 1987 ). Bimbingan dan Penyuluhan. Surabaya : Usaha Nasional

Jakarta: Rineka Cipta

Sukirno, Sadono.1997. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Jakarta : Raja Grafindo Persada

The Liang Gie (2002). Cara Belajar Yang Efisien. Yogyakarta : Pusat Kemajuan Studi.

 

Thamrin Nasution dan Nur Halijah Nasution, Peranan Orang Tua dalam

Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, (Yogyakarta: Gunung Mulia, 1989)

 

The Liang Gie  (2004). Cara Belajar Yang Baik Bagi Mahasiswa. Yogyakarta :  Gajah Mada University Press

 

Umar Tirtarahrdja dan La Sulo. (2005). Pengantar Pendidikan.Jakarta : Pusat Pembukuan Depdiknas Penerbit Rineka Cipta

Wahyurini, Ernanti. (2003). Perlindungan anak : berdasarkan undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Jakarta : UNICEF

 

Wayan Nurkancana dan Sumartana. (1986). Evaluasi Pendidikan. Bandung : tarsito

Widodo, Hg. Suseno Triyanto, Indikator Ekonomi Dasar Perekonomian Indonesia,

(Yogyakarta: Kanisius, 1990),

 

Contoh Teori Fasilitas Belajar Untuk Skripsi Pendidikan

Sekian contoh teori Fasilitas belajar untuk menyusun skripsi pendidikan, semoga bermanfaat bagi anda semua yang membutuhkan data informasi tentang fasilitas belajar dalam penyusunan skripsi anda. terima kasih  Contoh Teori Fasilitas Belajar Untuk Skripsi Pendidikan

deva | November 29th, 2012 | 3 Comments
      Pin It


  1. Ilmu Kimia says:

    semoga dengan adanya fasilitas menambah daya kepahaman pelajar.

    salam.

  2. abdul rahman says:

    terimakasih mas tulisannya sangat membantu terutama sy yang lagi menyusun proposal mengenai fasilitas belajar, kalau bisa dilampirkan juga daftar pustakanya mas,terimakasih…





Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.